Masukkan Code ini K1-C4FEFY-9
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Rabu, 03 November 2010

Surono Si 'Juru Kunci' Merapi



Hingga kini, Keraton Yogyakarta belum memilih juru kunci Gunung Merapi pengganti Mbah Maridjan yang meninggal dunia akibat awan panas 'wedhus gembel' pada 26 Oktober lalu. Kini, ada satu nama yang disebut-sebut sebagai 'juru kunci' Merapi, yakni Doktor Surono.

Pria beruban dan berkacamata kelahira 8 Juli 1955 itu kini setiap hari muncul di layar kaca, media online, radio, hingga media cetak. Setiap pernyataannya selalu menjadi rujukan dan acuan bagi perkembangan detik demi detik perkembangan gunung di perbatasan Jawa Tengah-Yogyakarta yang kini masih berstatus Awas itu.

Sekali waktu, Surono menyampaikan kepada VIVAnews.com betapa bimbangnya saat setiap kali membubuhkan tanda tangan penetapan status Awas bagi gunung api. Seperti halnya saat menaikkan status Gunung Merapi. "Ketika saya tanda tangan, itu berarti artinya ribuan orang akan diungsikan," kata Surono saat dihubungi lewat telepon Selasa 2 November lalu.

Gunung Merapi ditingkatkan statusnya dari Siaga menjadi Awas terhitung Senin 25 Oktober 2010 pukul 06.00 WIB. Ini adalah level tertinggi. Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu menerima surat pemberitahuan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta kepada Pemerintah Kabupaten Sleman. Surat pemberitahuan status merapi dinaikkan dari siaga ke awas tertanda Nomor 2044/45/BGL.V/2010.

"Untungnya informasi status Awas itu disampaikan pemerintah daerah. Coba wartawan lebih awal mengetahui dari saya, bisa kacau nantinya," kata Surono sambil bercanda. Sudah sepekan Surono menjadi narasumber yang sangat penting bagi media dan masyarakat di Tanah Air. Peringatan demi peringatan yang disampaikan Surono menjadi rujukan bagi segala kegiatan di Merapi. Terutama untuk penanganan evakuasi pengungsi. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 'tunduk' atas rekomendasi dan imbauan yang dikeluarkan Surono.

"Soal gunung, saya pun sebagai presiden, tetap tunduk pada Pak Rono. karena dia yang mengetahui geologinya," kata SBY di pos utama Merapi di Pakem, Yogyakarta, Rabu 3 November 2010. '
Tingkah polah' gunung api di seluruh Indonesia dapat diketahui dari satu pintu, Surono. SBY pun mengakui itu. "Waktu Kelud (pasca meletus), pengungsi bertanya, apakah kami boleh pulang, saya jawab yang memberikan pernyataan Pak Rono karena Badan Geologi yang mengetahui kondisi aman tidaknya. Mari kita tunggu pernyataan Pak Rono," kata SBY di pos utama Merapi di Pakem, Yogyakarta, Rabu 3 November 2010. Demikian juga dengan di Sinabung. Saat itu, warga yang merasa kondisi sudah aman minta izin untuk pulang. Jawaban SBY tetap sama: "Tunggu, karena yang memberi keputusan Pak Rono."

Kutipan Surono menjadi informasi yang penting bagi masyarakat, terutama pengungsi. Tetapi, Surono rupanya tidak pernah membaca, melihat, atau mendengarkan lagi setiap pernyataan yang sudah diberikan kepada media. Alasannya sederhana. Dalam ritme kerja yang tinggi ini, Surono tidak ingin terganggu dengan segala hal pemberitaan dan interpretasi media.

"Saya tidak baca koran, nonton berita, atau yang lainnya. Karena itu akan mempengaruhi emosi saya. Makanya, saya lebih suka nonton pertandingan bola. Wartawa itu, dijawab salah, tidak dijawab juga salah," ujar Surono yang suaranya terdengar semakin parau. Dia mengakui, kondisi kesehatannya terus menurun seiring kondisi Merapi yang belum mereda. Bahkan, "Pita suara saya semakin gawat. Banyak merokok, kurang tidur."

Siapa Surono? Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu lulus sarjana jurusan Fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1982. Lima tahun kemudian, pria yang tinggal di Parongpong, Bandung, ini terbang ke Prancis untuk melanjutkan studi.

Pada 1989, 'sesepuh' gunung berapi ini mendapat gelar DEA Mechanique Mileux Geophysique et Environment dari Grenoble University di Grenoble, Prancis. Seperti tidak ada jeda, pada tahun yang sama ayah dua putri ini kembali melanjutkan pendidikan. Gelar doktor geofisika sukses diraih dari Savoei University, Chambery, Prancis, pada 1993.

Sebelum mencapai posisi puncak di dunia Vulkanologi. Surono sudah merintis karis di PVMBG. Surono mulai menjadi staf Divisi Pengamatan Gunung Api di PVMBG sejak 1982 hingga akhirnya dipercaya menjadi Kepala PVMBG mulai 2005.

Berbagai keahlian tentang kegunungapian didapat Surono dari berbagai lembaga dunia. Seperti dari Unesco (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan USGS (lembaga Survei Geologi AS). Puluhan publikasi tentang kegunungapian dari Surono sudah terbit. Mbah Maridjan memang juru kunci pilihan Keraton, tetapi bukan tidak mungkin Surono 'Juru Kunci' Merapi dari Istana Presiden. (umi)

Ajaib! Masjid di Pesisir Mentawai Tak Tersentuh Tsunami

Subhanallah..!!!. Ada Masjid Di Pinggir Pantai Tak Tersentuh Tsunami Di Mentawai - Pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIB, langit Sikakap tampak mendung. Di luar rumah tanah tampak lanyah. Pepohonan dan rerumputan masih basah setelah diguyur hujan deras sepanjang malam. Sebentar lagi, sepertinya hujan deras bakal turun. Ya, membasuh duka Bumi Sikerei.

Di luar rumah, bau mayat menyengat. Aroma tak sedap menebar ditiup angin. Memang, hingga Jumat (29/10), mayat masih bergelimpangan di pinggir jalan. Pikiran saya langsung terbayang ratusan warga Pagai Selatan yang bertahan di perbukitan, dalam kondisi hujan badai. Selain menahan lapar, dinginnya malam, mereka harus melawan penyakit yang kini menyerang.

Ternyata benar. Hujan deras mengguyur Sikakap. Tak hanya hujan, tapi juga badai. Di posko utama, para jurnalis dan relawan telah berkumpul. Seperti biasa, setiap pagi kami siap-siap menyisir desa terpencil yang belum terjamah bantuan. Pagi itu, tim relawan dan jurnalis hendak menuju Dusun Pasa Puat di Pagai Utara. Dusun itu, semua rumah hancur. Mujur, tidak ada korban jiwa.

http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos2/masjid-tua.jpg&h=235&w=355&zc=1

..."Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami sadar ini adalah kehendak Tuhan,...
Perjalanan menggunakan kapal kayu atau long boat. Kapal itu mampu memuat 12 orang dan sedikit logistik untuk pengungsi. Berapa menit berlayar, gelombang dua meter menghadang. Pelayaran pun dihentikan. Setelah menunggu sekitar satu jam, boat yang dinakhodai Dayat itu dilanjutkan selama dua jam pelayaran. Sepanjang perjalanan, boat nyaris karam karena dipenuhi air. Kami sampai di tujuan sekitar pukul 17.00 WIB.

Dari pantai, Dusun Pasa Puat sunyi senyap. Sedikit pun tidak terlihat tanda-tanda seperti sebuah kampung. Permukiman penduduk rata dengan tanah. Tak satu pun rumah warga yang berdiri. Semua tiarap. Hanya ada satu bangunan berdiri kokoh menghadap pantai. Ya, sebuah masjid. Garin masjid itu juga selamat. Zulfikar namanya.


Hari beranjak senja. Hujan belum juga reda. Zulfikar tampak bersiap menunaikan Shalat Maghrib. Dalam obrolannya, pria berusia 40 tahun itu mengaku telah tingal di dusun itu sejak kecil. Sama dengan usia masjid itu yang berdiri sekitar tahun 1960 silam. "Ini masjid tertua di dusun kami. Bentuk masjid itu sudah tidak asli lagi, karena terus diperbaiki," ujar Zulfikar.


Zulfikar menceritakan, masjid ini sama sekali tidak tersentuh tsunami pada malam itu. Padahal, lokasinya tidak jauh dari pantai. Sedangkan rumah-rumah warga di sekitar masjid, rata dengan tanah. Masjid inilah yang menjadi tempat perlindungan masyarakat saat gelombang besar datang.


Seperti mukjizat, air laut hanya sampai di teras masjid. Di luar masjid, Zulfikar melihat dengan mata kepala sendiri gelombang tsunami mencapai delapan meter. "Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami sadar ini adalah kehendak Tuhan," jelas pria berjenggot itu.


Zulfikar dan 50 warga lainnya tidak henti-henti mengucap kebesaran Allah. Di luar masjid, tsunami terus menerjang sebanyak tiga gelombang. Tiada yang menduga, tsunami menghindar dari masjid. "Sepertinya, di masjid air terbelah, sehingga lantai masjid pun tidak basah sama sekali," kenangnya. ( voa-islam.com )

Jika Meletus, Krakatau Akan Jauh Lebih Dahsyat


Jakarta-Saat Krakatau meledak pada 1883 ribuan orang tewas dan mempengaruhi cuaca selama lima tahun. Ilmuwan internasional memperkirakan jika Krakatau meletus lagi akan lebih besar dan lebih mematikan.

Krakatau yang terletak di selat Sunda dengan ketinggian 1.200 kaki merupakan gunung paling menakutkan di dunia. Saat meledak pada 1883, lebih dari 36 ribu orang tewas. Ledakan itu diperkirakan 13 ribu kali lebih hebat dibandingkan bom atom di Hiroshima, dan mengganggu cuaca dan suhu global selama lima tahun.


Erupsi dan bencana yang ditimbulkan Krakatau tidak ada yang menandingi. Bahkan erupsi Mount St Helens di AS pada 1980 sedikit pun tak mampu menyamai Krakatau. Kini Krakatau sudah tidur panjang hampir satu setengah abad, apakah akan terjadi bencana lagi?

Prediksi ledakan gunung api semakin baik. Tapi kita tidak pernah bisa memprediksi secara tepat ledakan besar dan ledakan tidak biasa, karena memang tidak biasa, kata Profesor Jon Davidson, chair of Earth Science di Durham University.


Jika Krakatau meledak lagi seperti di abad 19 maka korban dipastikan akan lebih besar. Selama lebih dari 100 tahun, wilayah Krakatau telah berkembang secara pesat.


Catatan resmi ledakan pada 1883 bersama tsunami yang ditimbulkannya telah meluluhlantakkan 165 desa dan kota. Selain itu, 132 kota rusak parah dan 36.417 orang menjadi korban.


Letusan Krakatau itu menimbulkan efek di seluruh planet. Suhu rata-rata global turun 1,2 derajat celcius setelah sulphur dioxide dalam jumlah besar diterbangkan ke angkasa. Hal itu menimbulkan awan besar yang memantulkan sejumlah besar sinar matahari.


Marco Fulle (51) ilmuwan dari Italia mengingatkan bahayanya letusan Krakatau.


Ledakan seperti 1883 bakal terjadi lagi. Krakatau akan menjadi sangat berbahaya jika tingginya sudah setara dengan ketinggian 1883, atau dua kali dari tinggi sekarang, katanya.


Meskipun begitu, tidak ada jaminan ledakan tidak terjadi dalam waktu dekat. Saat ledakan pada pagi 26 Agustus 1883, serangkaian letupan melemparkan debu sejauh 22 mil ke udara.


Di keesokan harinya, empat kali erupsi menyebabkan dua pertiga pulau itu runtuh ke lautan. Sebelumnya pada 20 Mei 1883, kapal Jerman Elizabeth melaporkan melihat kolom debu dan asap naik tujuh mil di atas pulau Krakatau.


Krakatau yang aslinya setinggi 2.667 kaki tingga 820 kaki di bawah laut. Letusan itu sangat keras sehingga bisa didengar dari jarak 1.900 mil di Perth Australia dan 4.500 mil di Sri Lanka.


Itu akibat campuran magma dan air laut yang menyebabkan erupsi sangat eksplosif, kata Profesor Davidson. Air masuk ke ruang magma dan menghasilkan ledakan yang menyebabkan pulau terbelah, imbuhnya.

Professor Davidson skeptis ledakan maha dahsyat akan terjadi dalam waktu dekat. Tidak cukup banyak magma, katanya.


Daripada membuat prediksi, tugas ilmuwan harus melakukan pencegahan untuk menimalisir risiko bagi yang hidup di dekat gunung itu. Hal itu yang lebih penting. Mungkin saran dari Professor Davidson ini ada benarnya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger